Open My Mind


Rasanya lama sekali sudah nggak GoBlog, padahal banyak sekali yang ingin ditulis. Sebenarnya gak nyesel sih, bahkan disuruh nggak lagi NgeBlog gapapa deh Asal :mrgreen:

Alhamdulillah dengan ini saya beritahukan bahwa saya telah mengakhiri Masa Bejat Lajang saya

Alhamdulillah saya sudah mendapatkan teman hidup yang akan menemani dalam suka dan duka :mrgreen:

Alhamdulillah sekarang hidup saya sudah benar-benar berubah 🙂

Alhamdulillah saya juga sekarang tidak lagi minum Anggur gak Nganggur lagi karena saya sudah bekerja 😆

Hal inilah yang membuat urusan GoBlog ini jadi gak keurus, tapi bener saya nggak nyesel lho 😛

Semua pasti ada hikmahnya :mrgreen:

Seiring dengan hidup yang baru maka perubahan pun harus diterapkan 😉

Ego Mirza sudah saya Update, udah gak lagi single available :mrgreen:

Tampilan juga dirubah, rumah baru bro 😛

Buat Yang Lain yang belum beruntung maka cepat-cepatlah cari peruntungan sebelum bertambah tua dan single selamanya seutuhnya

Akhir Kata

Mari Mulai Hidup baru :mrgreen:

Iklan

Seolah Bijak Tapi Sebenarnya Tidak Berguna, Seolah Berisi Tapi Tidak Bermakna, Memberi Tahu Tapi Siapa Yang Nggak Tahu, Utopis Tapi Kebangetan

Apa ini? apa ini?

Kesan yang saya dapat ketika blogwalking akhir-akhir ini

Bayangkan, kita mau diskusi baik-baik. Susah memang diskusinya tapi kan seru nambah wawasan. Eh gak tahunya ada saja yang menanggapin dengan kalimat yang aneh

Buat apa kalian ribut-ribut, apa kalian tidak lihat kalau masih banyak orang yang kelaparan. Apa usaha anda untuk mereka?. Untuk apa ribut-ribut yang gak ada gunanya. Lebih baik kita sama-sama menjaga ukhuwah di antara kita.

Intinya begitulah

Sebenarnya kan yang didiskusikan itu sedikitpun gak ada kaitannya dengan kelaparan atau orang-orang yang lapar. Lagian diskusi itu biasa silang pendapat. Apa hubungannya dengan mereka yang kelaparan

Pakai nanya apa usaha buat mereka? Memangnya yang bicara itu tahu pasti kalau yang diajak bicara itu tidak punya andil buat mereka yang kelaparan.

Mau sok bijak untuk menutupi rasa tidak senangnya dengan diskusi

Apalah gunanya kata-kata itu? untuk memberi tahu apa?, yang begitu mah orang sudah pada tahu semua.

Jadinya kan cuma Omelan gak karuan dengan gaya seolah bijak dan berisi.

Sudahlah, kalau Etika berdiskusi aja tidak bisa, lebih baik tidak usah bicara yang besar-besar.

Atau kata-kata gak jelas begini

Kepada saudara-saudaraku sekalian, hentikanlah segala tikai yang membuat duga salah di antara kita.
Janganlah egois, dengan mengedepankan harga diri yang tak berguna.
Sudah saatnya kita bangun Ummat dan bangsa ini.
Marilah saling membahu, memikul beban yang tak selamanya membuat kita terkapar.

Gayanya gak salah-salah, ingin mendamaikan yang bertikai (padahal cuma silang pendapat). Apa itu harga diri yang tidak berguna? Apakah idealisme kita itu tidak berharga sama sekali? Apakah yang kita yakini itu tidak berharga? Lucu, bicara yang besar dengan gaya utopis, Mari membangun Ummat dan Bangsa.

Kata-kata apa itu, itu cuma dongengan utopis anak kecil, kenapa? Yang begitu gak perlu dibilang-bilang, setiap orang berusaha dengan caranya sendiri membangun umat dan bangsa, tidak perlu pakai ajakan yang gak ada isinya begitu.

Kalau dipikirkan memangnya bagaimana membangun Ummat dan Bangsa, Kalau Islam misalnya, yang satu bilang mari kita membangun ummat dengan manhaj salaf, yang satu lagi ummat harus diingatkan dengan seruan-seruan tabligh, yang satu lagi ummat harus dibangun dengan tarbiyah-tarbiyah. Nah anda tahu kemana arahnya, ke arah Salafy, Jamaah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin. Masa’ sih tidak tahu kalau mereka aja pada saling ribut. Jadi membangun Ummat apanya atau yang gimana?

Membangun bangsa? pakai apa, pakai beton, pakai nasi, pakai duit, pakai apa? bicara aja gak jelas. Ada yang bilang untuk membangun bangsa kita perlu pemimpin yang handal. Mari kita bersama-sama bergabung dalam partai G**k*r. Yang lain bilang tidak usah ikut partai itu lebih baik pakai partai ini. Yang lain lagi mari membangun ummat bersama organisasi ini, yang lain lagi ikut saja organisasi kami dan ah banyak…… Masa’ sih gak tahu kalau mereka aja juga sering ribut. Jadi mau membangun bangsa alaa apa? Gak ngerti saya

Sok Bijaknya pakai gaya Utopis pula

Sudahlah,
bangunlah cinta diantara kita.
Tidak ada artinya debat ilalang yang tetap terburai,
kecuali dengan jalin mesra indahnya ukhuwah.

Memangnya debat itu haram, kalau ada dasarnya sah-sah aja atuh. Setiap orang tidak sama pandangannya. Berbeda itu biasa, dan kalau pandangan itu ditampilkan di depan umum ya sah-sah aja kalau ada yang tidak setuju dan mau mengkritiknya. Yang penting kan tidak perlu merendahkan, cukup sederhana saja.

Membangun cinta dengan menjalin mesra ukhuwah, Alah ini mah Utopis, gak penting. Bukan berarti saya tidak suka menjalin ukhuwah. Maksudnya gak perlu dibilang, orang udah pada tahu kalau ukhuwah mesti dibangun Tapi gimana caranya

Bicara cinta kenal aja tidak, apalagi mesra ukhuwah, wah apa itu Utopis banget kali

Ukhuwah jenis apa yang selalu diteriakkan orang itu, apa yang diteriakkan oleh mereka pengusung manhaj salaf, atau yang diteriakkan oleh mereka para kader partai, atau oleh mereka kader organisasi somethinglah. Ukhuwah jenis apa, kata ukhuwah sepertinya sudah gak ada maknanya kalau diumbar-umbar begitu.

Tidak perlu banyak bicara yang umum, yang abstrak dan yang kita sendiri susah menjabarkannya. Apalagi pakai gaya seolah sudah paham sebenar-benarnya. Itu sih gaya orang lemah.

Seharusnya setiap orang tahu yang mana yang baik kalau berhubungan dengan orang lain.

Menghina orang bukan hal baik.

Teriak-teriak bilang sesat tanpa mau berdiskusi bukan hal baik.

Merendahkan orang karena labelnya juga bukan hal baik.

Yang begitu sudah pada tahu kan, nah tunjukkan kalau bisa. Bukan dengan kata sok bijak, sok menyelesaikan urusan, sok menengahi tapi sebenarnya gak ada isinya, dan maknanya gak jelas. Mengusung Utopisme yang sebenarnya gak perlu diumbar-umbar. Kenapa? Karena orang udah pada tahu harus begitu. Orang pada tahu harus membangun umat atau bangsa, orang udah pada tahu harus menjaga ukhuwah, tapi gimananya itu yang berbeda tiap orang.

Sudah ah saya jadi males nerusinnya

Hampir semua orang menjalin hubungan dengan orang lain termasuk saya. Hubungan yang saya maksud ini hubungan antara dua manusia yang berlainan jenis (gebetan atau pacaran). Nah mari kita sama-sama berterus terang, hubungan tipe begini yang paling sering lewat SMS, benar tidak?

Biasa saja kan, kalau ada kenapa gak dipakai ya kan. Oh jelas itu, tapi yang ingin dibahas adalah kenapa orang cenderung suka sekali SMS-an dengan calonnya. Alasan yang terpikirkan oleh saya adalah Karena SMS adalah komunikasi yang bersifat terbuka, he he he terbuka dalam arti bebas untuk dimanipulasi.

Apa maksudnya? Dalam berkomunikasi setiap manusia menggunakan bahasa. Bahasa ini terbagi menjadi dua yaitu bahasa verbal dan bahasa nonverbal. Bahasa verbal adalah pesan yang diucapkan atau yang dituliskan sedangkan bahasa nonverbal adalah pesan yang tersirat tidak dengan bahasa verbal. Bahasa nonverbal bisa berupa ekspresi (pesan fasial), gerak anggota badan (pesan gestural), dan intonasi berbicara (pesan paralinguistik).

Kalau kita lihat yang namanya SMS hanya menggunakan bahasa verbal yaitu teks pesan SMS itu, sedangkan bahasa nonverbalnya sama sekali tidak ada. Oleh karena itu hubungan SMS ini benar-benar berbeda dengan hubungan atau komunikasi langsung yang menggunakan kedua bahasa tersebut verbal dan nonverbal.

Perbedaan ini yang membuat orang cenderung lebih suka berhubungan lewat SMS. Nah begini maksudnya

  1. Pesan nonverbal memiliki kekuatan yang besar untuk mempengaruhi seseorang bahkan jika pesan verbal berbeda dengan pesan non verbal, orang lebih cenderung meyakini pesan nonverbal (mantra nonverbal memang butuh konsentrasi dan kekuatan sihir yang lebih besar :mrgreen: ). Contohnya, ada yang berkata pada anda “kamu memang pintar” tetapi dia berkata sambil mencibir. Anda lebih mempersepsi kata-katanya sebagai merendahkan ketimbang pujian. Atau suatu ketika anda membuat kesal seseorang kemudian anda buru-buru meminta maaf, orang itu bilang “saya tidak marah kok” lalu dia pergi sambil membanting pintu dengan keras. Otomatis anda pasti berpikir “aduh, dia masih marah”. Ketiadaan pesan nonverbal pada SMS membuat orang tidak mempersepsi yang macam-macam dan biasanya orang hanya terfokus dengan pesan SMS itu dan tidak akan berpikir yang tidak-tidak (yang negatif tentunya)
  2. Ketiadaan Pesan nonverbal pada SMS juga membuat orang menjadi begitu kreatif untuk membuat atau membayangkan pesan nonverbal sendiri. Orang akan cenderung menjadi lebih imajinatif terhadap pesan SMS itu (tentunya yang menyenangkan) . Kesimpulannya orang akan membuat pesan SMS itu menjadi begitu menyenangkan bagi dirinya dengan menambahkan sendiri pesan nonverbal pada SMS itu. Misalnya ada SMS “Kamu itu sangat berarti buat Aku” dari teman yang beda gendernya. Secara tekstual pesan ini bisa berarti macam-macam, seandainya kata-kata ini diucapkan dengan datar saja dalam obrolan biasa, rasanya tidak begitu berarti atau jika diucapkan dengan ekspresi tertentu yang menyiratkan ada maunya maka persepsi kita bisa menjadi cenderung negatif. Tapi kalau SMS yang seperti itu maka biasanya orang cenderung jadi keGeeRan dan Moodnya akan langsung berubah jadi lebih baik, senyum-senyum sendiri sambil membayangkan “ternyata masih ada yang suka sama saya” 😀 .

Apakah saya bermaksud untuk mengatakan bahwa anda sebaiknya jangan percaya pada SMS? Oh tidak jelas bukan begitu. Saya hanya menggambarkan kecenderungan orang yang lebih suka dengan hubungan lewat SMS. Soal benar atau tidaknya pesan SMS yang dimaksud, itu adalah hal lain, bisa jadi apa yang dibayangkan itu benar atau bisa juga jadi sangat tidak benar. Ya pintar-pintar anda saja.