Hampir semua orang menjalin hubungan dengan orang lain termasuk saya. Hubungan yang saya maksud ini hubungan antara dua manusia yang berlainan jenis (gebetan atau pacaran). Nah mari kita sama-sama berterus terang, hubungan tipe begini yang paling sering lewat SMS, benar tidak?

Biasa saja kan, kalau ada kenapa gak dipakai ya kan. Oh jelas itu, tapi yang ingin dibahas adalah kenapa orang cenderung suka sekali SMS-an dengan calonnya. Alasan yang terpikirkan oleh saya adalah Karena SMS adalah komunikasi yang bersifat terbuka, he he he terbuka dalam arti bebas untuk dimanipulasi.

Apa maksudnya? Dalam berkomunikasi setiap manusia menggunakan bahasa. Bahasa ini terbagi menjadi dua yaitu bahasa verbal dan bahasa nonverbal. Bahasa verbal adalah pesan yang diucapkan atau yang dituliskan sedangkan bahasa nonverbal adalah pesan yang tersirat tidak dengan bahasa verbal. Bahasa nonverbal bisa berupa ekspresi (pesan fasial), gerak anggota badan (pesan gestural), dan intonasi berbicara (pesan paralinguistik).

Kalau kita lihat yang namanya SMS hanya menggunakan bahasa verbal yaitu teks pesan SMS itu, sedangkan bahasa nonverbalnya sama sekali tidak ada. Oleh karena itu hubungan SMS ini benar-benar berbeda dengan hubungan atau komunikasi langsung yang menggunakan kedua bahasa tersebut verbal dan nonverbal.

Perbedaan ini yang membuat orang cenderung lebih suka berhubungan lewat SMS. Nah begini maksudnya

  1. Pesan nonverbal memiliki kekuatan yang besar untuk mempengaruhi seseorang bahkan jika pesan verbal berbeda dengan pesan non verbal, orang lebih cenderung meyakini pesan nonverbal (mantra nonverbal memang butuh konsentrasi dan kekuatan sihir yang lebih besar :mrgreen: ). Contohnya, ada yang berkata pada anda “kamu memang pintar” tetapi dia berkata sambil mencibir. Anda lebih mempersepsi kata-katanya sebagai merendahkan ketimbang pujian. Atau suatu ketika anda membuat kesal seseorang kemudian anda buru-buru meminta maaf, orang itu bilang “saya tidak marah kok” lalu dia pergi sambil membanting pintu dengan keras. Otomatis anda pasti berpikir “aduh, dia masih marah”. Ketiadaan pesan nonverbal pada SMS membuat orang tidak mempersepsi yang macam-macam dan biasanya orang hanya terfokus dengan pesan SMS itu dan tidak akan berpikir yang tidak-tidak (yang negatif tentunya)
  2. Ketiadaan Pesan nonverbal pada SMS juga membuat orang menjadi begitu kreatif untuk membuat atau membayangkan pesan nonverbal sendiri. Orang akan cenderung menjadi lebih imajinatif terhadap pesan SMS itu (tentunya yang menyenangkan) . Kesimpulannya orang akan membuat pesan SMS itu menjadi begitu menyenangkan bagi dirinya dengan menambahkan sendiri pesan nonverbal pada SMS itu. Misalnya ada SMS “Kamu itu sangat berarti buat Aku” dari teman yang beda gendernya. Secara tekstual pesan ini bisa berarti macam-macam, seandainya kata-kata ini diucapkan dengan datar saja dalam obrolan biasa, rasanya tidak begitu berarti atau jika diucapkan dengan ekspresi tertentu yang menyiratkan ada maunya maka persepsi kita bisa menjadi cenderung negatif. Tapi kalau SMS yang seperti itu maka biasanya orang cenderung jadi keGeeRan dan Moodnya akan langsung berubah jadi lebih baik, senyum-senyum sendiri sambil membayangkan “ternyata masih ada yang suka sama saya” 😀 .

Apakah saya bermaksud untuk mengatakan bahwa anda sebaiknya jangan percaya pada SMS? Oh tidak jelas bukan begitu. Saya hanya menggambarkan kecenderungan orang yang lebih suka dengan hubungan lewat SMS. Soal benar atau tidaknya pesan SMS yang dimaksud, itu adalah hal lain, bisa jadi apa yang dibayangkan itu benar atau bisa juga jadi sangat tidak benar. Ya pintar-pintar anda saja.